Senin, 28 September 2015

Indahnya Curug Nangga Ajibarang Banyumas

Begitu maraknya tentang foto2 Curug Nangga di media sosial khususnya facebook, hingga saya penasaran dan langsung buka Mbah Google. Al hasil, sudah banyak teman2 yang membuktikan keindahan curug Nangga yang katanya ada 7 tingkatan curug. Hmmm ketinggalan deh, sementara lokasi curug agak dekat dengan kampung saya, kurang lebih bisa ditempuh dalam waktu 1,5 jam menggunakan kendaraan roda 4.
Untuk mengurangi rasa penasaran, akhirnya saya putuskan untuk kesana tgl 16 Mei 2015, sekalian mudik untuk nengok makam orang tua di Banyumas.

Menuju Curug Nangga kalau dari Banyumas menuju arah Purwokerto melalui Kota Ajibarang ke arah barat, jika ada jembatan timbang masih lurus sampai PO.Sumber Alam kurang lebih 100 meter ke barat ada pertigaan Cikawung tepatnya di Pangkalan Ojeg Ciakwung belok kiri.  Ikuti terus jalan itu hingga melewati Desa Semedo kemudian naik ke Desa Petahunan, disitu sudah ada petunjuk jalan menuju Curug.Namun jika menggunakan kendaraan roda 4 harap hati2, karena jalanannya begitu curam dengan kemiringan yang hampir 45 derajat.Mobil kamipun sempat mogok hingga kami harus menumpang kendaraan bak terbuka yang hendak mengantar bahan bangunan.

Namun karena mobil toko bangunan gak sampai ke TKP, maka kami lanjutkan dengan jalan kaki, namun baru sebentar jalan, kaki ini serasa gak mau melangkah lagi, ternyata tanjakannya lumayan tinggi. kamipun sempat istirahat di pinggir jalan,,,dan malaikatpun datang, mobil patroli polisi hendak menuju lokasi wisata Curug Nangga,,,alhamdulillah,,,kami ber 7 bisa numpang hingga sampai ke TKP. Sesuatu banget rasanya,,,,


Yaa waktu itu kami bawa 2 mobil, hanya 1 mobil yang mogok, kami tinggal mobil itu di pinggir jalan, kemudian pak Polisi telpon ke bengkel untuk ngambil mobil kami dan dibawa ke bengkel untuk di perbaiki. Kata nya sesudah diperiksa, ternyata koplingnya yang rusak, saya tidak tahu apanya, yang jelas mobil jadi tak ada kekuatan sekali untuk nanjak.  Tips untuk yang belum pernah kesini, bawalah mobil yang kondisinya bagus dan sopirnya piawai ya, supaya perjalanan jadi lancar dan aman.

Sampai di TKP kami parkir mobil di pekarangan orang, karena tempat parkir penuh dengan sepeda motor, maklum hari libur. Kemudian, karena kami sudah bawa makanan, maka sebelum naik ke curug, kami sempatkan untuk makan siang terlebih dahulu.

Menu makan siangnya sungguh sedaaapppp, masakan asli Banyumasan hasil masakan Lik Karti. Ada oseng2 tempe, mie goreng, urap, ayam goreng, sambal lalap, mendoan, dage,,,,,ruar biasa lengkapnya, hanya dengan kocek Rp. 15.000,- per porsinya. Mantap pokoke Lik,,,,,,
Pak Polisipun kelihatan lahap sekali makan siangnya,,,,,habis makan kita foto bareng ya pak,,,,,xixixixi

 
 Sehabis makan kami melakukan shalat dhuhur terlebih dahulu, biar perjalanan jadi tenang. Naahhhh,,,kalau sudah beres semuanya, kita lanjut yuk menuruni lembah dulu sepanjang kurang lebih 1,5 km, menurun namun berkelak kelok jadi cukup menguras tenaga juga. Tak perlu khawatir karena sisi kanan kita berupa pemandangan yang menghijau, sawah dan pohon2an, sehingga capai kita sejenak bisa terlupakan.  Sawah disini menggunakan sistem teraciring, jadi terlihat unik ya ?

 

Disamping sawah juga ada pohon coklat di setiap halaman warga, untuk yang jarang melihat buah coklat pasti senang, beda kalau yang tinggal di pulau Sumatera tentu sudah biasa melihat pohon coklat.












Akan lebih bagus kesini kalau musimnya tidak terlalu basah, karena jalanan ke curug belum semuanya di kasih batu2an, ada sebagian yang masih berupa tanah, entah saat ini ya, mudah2an pembangunan jalan semi permanen telah selesai sehingga akan mempermudah kita menuju curug.



Jika capai istirahatlah,,,banyak warung2 di sepanjang jalan ini, kita bisa istirahat sambil beli makanan kecil dan minuman. Sayup2 terdengar suara gemercik air, apakah itu suara curug ? Gak sabar untuk melihatnya, kami percepat langkah kami, dan benar, di kejauhan sana sudah nampak indahnya curug nangga dengan bentuk yang bersusun-susun.


Subhanallah indahnya,,,,!!! Curugnya memang sudah kelihatan, namun tempatnya masih jauh disana,,,,,mari kita lanjutkan jalan.Dari jauh nampak air curug kecil ya, karena memang kami kesini sudah musim kering, jadi perlu tanya2 dulu ke masyarakat sekitar, kapan kira2 waktu yang pas untuk berkunjung. Karena kalau pas musim hujan kendalanya jalan licin, tapi kalau musim kemarau air terjunnya kecil.



Kemungkinan karena debit air kecil sehingga banyak anak2 yang mainan air dan berloncat2an. Walau Air curug nampak kecoklatan, namun terlihat asyek aja itu anak2 yang mandi di kolam air terjun, sepertinya tidak dalam juga, sehingga kamipun berani untuk ke tengah.
 

Sebelum ke tengah musti di coba2 dulu licin apa tidak, jika sudah aman maka bolehlah ibu2 pada narsis. Bukan Ibu2 Bolang namanya kalau tidak berani naik ke atas menuju tingkat 5,,,,,

 
 Kalau anak muda malah banyak yang naik sampai ke tingkat 7,,,,ruar biasa. bahkan ada yang nekat berdiri di bibir tebing curug demi mengibarkan bendera komunitas jalan2nya,,,,,hahahahaha


Namun siap2 saja, jika kita sudah sampai di tingkat atas maka berhati-hati menuruni tebing2 curug, karena belum dibangun jalanan menurun yang permanen disertai pegangannya.




Oh yaaaa,,tiket masuk ke curug ini hanya Rp. 3.000,- pasti terjangkau untuk semua kalangan. Masya Allah, hanay dengan kocek pecahan segitu sudah bisa menikmati indahnya alam semesta. Mesti perlu diberdayakan lagi curug ini, dengan meningkatkan fasilitas2 yang memadai seperti toilet bersih, mushola bersih dan warung bersih supaya wisatawan yang berkunjung kesini akan merasa nyaman. Kabarnya warga negara asing juga sudah ada yang sampai kesini, ini menandakan gaungnya sudah kemana-mana. Tinggal Pemda setempat jeli menangkap peluang ini atau tidak.

Memang tiketnya murah meriah, namun ketika saya lihat ada tandu yang tergeletak di depan warung, saya bertanya ke pemilik warung "untuk apa tandu ini bu ?"
Katanya untuk menandu wisatawan yang kecapaian atau sudah tidak kuat lagi jalan, karena memang jalannya nanjak. Begitu saya tanya biaya tandunya ternyata Rp. 150.000,- sampai ke tempat asal. Entah angin apa yang tiba2 membuat saya kepengin untuk naik tandu, sementara saya masih segar bugar,,,,olala


Begitulah cerita singkat saya tentang Curug Nangga, jika kalian penasaran, silahkan datang ke Purwokerto, atau ikut saya mudik ke Banyumas ? Ayooo ajaahhhhh,,,,,,

Indonesia itu luas bangeeettttttt,,,kapan lagi kalau tidak sekarang kita menikmatinya kawans ?????

Salam Jalan2,,,,,!!

Rabu, 23 September 2015

Pesona Curug Cigentis Karawang Jawa Barat

Tepatnya tanggal 6 Juni 2015 kami menuju Kerawang, tujuan utama adalah bersilaturahmi kerumah teman yang sedang sakit, sekalian refreshing ke tempat wisata yang ada di sana. 
Kami satu mobil ber 6, berangkat bersama-sama dari Bekasi, kemudian lanjut menuju Tol Cikampek dan berhenti di rest area KM 19 sebagai tempat meeting point kami.Masih ada 3 mobil lagi yang kami tunggu disini.



Kurang lebih pukul 10 pagi, semua sudah datang, dan kami lanjutkan perjalanan menuju Curug Cigentis yang berlokasi di  desa Mekar Buana Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Karawang, berjarak 44 km dari pusat kota Karawang dan dapat dilalui dengan kendaraan roda empat atau roda dua dengan kondisi jalan beraspal. Curug Cigentis merupakan salah satu wana wisata yang dikelola oleh Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten, KPH Purwakarta Seluas 5,00 ha.

Dari kota Karawang masuk ke jalan tol Cikampek hingga pintu Tol Kantor Asper  kurang lebih 30 km.  Selanjutnya dari pintu keluar Kantor Asper diteruskan menuju Parakan Badak sejauh kurang lebih 10 km. Sesampai di Parakan Badak mengambil arah ke Desa Jayanti kurang lebih 3,5 km. Mobil hanya sampai sini, dengan ongkos parkir Rp. 7.000,- sedangkan parkir sepeda motor Rp. 5.000,-.  Untuk menuju curug kita boleh jalan kaki, namun kalau tidak kuat (karena lumayan jauh) bisa naik ojek dengan tarif Rp. 30.000,- PP.
Namun naik ojekpun harus punya nyali mengingat tanjakan yang dilalui memang cukup ekstrim.Selepas naik ojek dilanjutkan jalan kaki sekitar 1.5 km yang masih berupa jalan berbatu keras dan menanjak cukup ekstrim. kurang lebih 45 menit sampai 1 jam.  


Satu jam lumayan lama untuk ukuran jalan kaki, namun tidak perlu khawatir karena jalanan sudah bagus, tersusun dari batu2 yang cukup besar. Ketika itu lagi musim kering maka jalanan tidak licin.  Di sepanjang jalan menuju Curug terdapat orang jualan minuman dan makanan kecil sehingga tidak usah takut kelaparan. Dan kalau capai bisa istirahat di batu2an yang ada di pinggir jalan tersebut.


Makanan yang dijual ada biscuit, mie2an dan jagung bakar, ditambah dengan aneka minuman dingin. Namun teman kami ada yang rajin membawa makanan dari rumah berupa nasi dan lauk pauk, sayapun ikut menyerbunya. Begitu sampai loket, kita musti kudu beli tiket dulu dengan harga Rp. 10.000,-



Habis beli tiket dilanjutkan perjalanannya dengan jalan kaki lagi. Pemandangan mulai bagus disini, pohon2 menghijau dan ada aliran sungai dibawahnya, airnya gemericik menampakkan suasana pegunungan yang asri.




Dikarenakan musim sudah masuk musim kemarau, maka aliran air sungainya juga kecil, namun airnya nampak dingin sekali.  Terdengar suara jeritan anak2 di depan sana, berharap sebentar lagi bakal sampai ke lokasi, maklum nafas sudah ngos2an ini, dan air mineralpun tak terasa sudah habis sebotol.


Yaaa benar sekali, curahan air terjun sudah terlihat di depan saya, sekilas nampak di ketinggian sekitar 25 meter dengan debit air yang lumayan besar dan terdapat kolam dibawahnya. Kabarnya di sekitar Curug Cigentis masih ada curug yang lainnya yang berjumlah 7.


Jika hendak berfoto atau main2 air di curug ini harus hati2 karena bebatuannya lumayan besar. Curug Cigentis berada di Gunung Loji, dibawah kaki Gunung Sanggabuana yang termasuk wilayah pengelolaan hutan RPH Cigunungsari BKPH Purwakarta.  





Jika kita lepas sepatu gunung dan kakinya kita rendamkan ke air ini, serasa es dinginnya, adeeeemmmm sekali. Rasanya pingin mandi, namun tidak membawa baju ganti, ada teman kami yang datang dari luar kota menyempatkan mandi2 di sini karena memang belum sempat mandi pagi.hihihihihihi..



Kabarnya nama Cigentis (juga menurut legenda) adalah nama putri keraton yang pertama kali mandi di kolam yang terbentuk dari air terjun tersebut. Nama lengkapnya adalah Nu Geulis Nyi Geuntis. Konon dia adalah anggota pasukan khusus kerajaan Padjadjaran yang di utus oleh raja untuk mengawal atau lebih tepatnya ‘menguntit dan mengawasi’ aktivitas dakwah yang dilakukan oleh para wali di wilayah Padjadjaran, tapi kemudian malah menjadi yang pertama berikrar memeluk Islam diantara anggota kesatuannya.
Curug ini berada di ketinggian 600-1200m dpl. Cerita legenda curug ini dapat dilihat juga di pos tempat membeli tiket masuk tadi. 
Ingin rasanya berada di tempat ini sampai sore, namun kasihan teman kami yang lagi sakit pasti sudah menunggu. berkali-kali nelpon dan menanyakan posisi ada dimana ??? Hmmmmm,,,kayaknya ada yang sudah disiapkan disana niihhhh..Jadi kami buru2 pulang, dan jalanan turun tidak begitu dirasa capainya.

Begitulah kawan,,,sekelumit perjalanan menuju ke Curug Cigentis, kalau penasaran boleh dicoba kesana.

Kami akhiri petualangan ini dengan menyantap nasi ala "kenduren / kepungan",,,,,,karena sedang kelaparan maka hidangan ini luar biasa enaknya.....!!!

Indahnya persahabatan,,,,,!!
Salam Jalan2 yaaaaa,,,,

Senin, 21 September 2015

Wisata Budaya ke Kampung Baduy Dalam Rangkas Bitung Jawa Barat

Selamat siang kawans,,,Salam jalan2...!!

Kemarin tanggal 20 September 2015 ketemu salah satu kawan di Lapangan Banteng Jakarta, dia cerita katanya kepingin wisata ke Kampung Baduy Dalam, jadi saya carikan dokumen foto di external hardisk niih, dan ketemu file2 foto ketika saya dan kawan2 Jalan2 ke Kampung Baduy Dalam tgl 13 -14 Juni 2015.

Kenapa pada tertarik ke Baduy Dalam siy ??? Gak tahu kenapa yang sebenarnya, tapi contohnya saya dan anak2 saya, sekali ke Baduy Dalam rasanya nyaman banget dan pingin ke sana lagi. Mungkin karena lingkungan alamnya yang indah di pegunungan, orang2nya yang ramah serta budayanya yang sangat berbeda dengan kita orang kota ya ??? Mereka sangat patuh kepada petuah leluhurnya.


Bagi masyarakat Baduy Dalam yang menganut kepercayaan Sunda Wiwitan, amanah leluhur adalah segala-galanya. Bila tak mentaati, mereka akan terkena sanksi adat hingga dikeluarkan dari Baduy Dalam. Kampung Baduy Luar adalah kampung yang dihuni oleh warga Kampung Baduy Dalam yang melanggar atau karena mereka memang sengaja pindah ke Kampung baduy Luar karena ingin modernisasi.


Baiklah, barangkali ada teman2 yang mau ke Kampung Baduy Dalam juga, saya mau share perjalanan saya kesana ya ? Saya tinggal di Jakarta, sehingga untuk menuju lokasi lebih praktis dimulai dari Stasiun Kereta Api Duri (sesudah stasiun Tanah Abang dari arah Bintaro). Kami bersama-sama rombongan menetapkan meeting pointnya disini. Kenapa praktis, karena jam keberangkatan kereta api menuju Rangkas Bitung bisa lebih pagi dibanding stasiun lainnya, dan hampir tiap jam ada jadwal menuju ke Rangkas Bitung.

   
Tiket kereta api menuju Rangkas Bitung Rp 8,000,-. Kita menggunakan kereta lokal kelas ekonomi namun menggunakan AC, jadi masih lumayan dingin, kurang lebih 2jam kami sampai di Stasiun Rangkas Bitung.

Sehabis dari sini, kami lanjutkan perjalanan lagi dengan menggunakan angkot (semacam mobil minibus) menuju Ciboleger, terminal angkot letaknya ada di belakang stasiun Rangkas Bitung, jadi kami tinggal jalan kaki saja menyeberangi rel2 kereta api menuju terminal. Ketika itu ongkos angkot menuju Ciboleger Rp. 15.000,-.


Nah jika kita kesananya rombongan, bisa minta tolong orang Baduy Luar untuk mencarikan sewa angkot PP, ketika itu sewa angkot sekitar Rp. 1.000.000,- Jadi usahakan bareng2 kawan sebanyak-banyaknya agar sewa angkot bisa di tanggung sama2, namun paling hanya muat 15 orang per angkotnya.


Kurang lebih 2 jam juga kami sampai ke Ciboleger, yang merupakan pintu gerbang masuk ke perkampungan Baduy Luar. Untuk yang mau bawa kendaraan sendiri juga bisa, mobilnya bisa dititipkan ke terminal Ciboleger atau penduduk setempat, kita bisa parkir di sekitar tugu selamat datang ini.

Untuk menuju ke perkampungan bisa minta tolong warga Baduy Dalam yang sudah pada standby di sekitar terminal ini, sekaligus bisa juga di berdayakan sebagai pengangkut barang (porter). Kita hanya kasih tips sukarela untuk mereka, tetapi sebaiknya bertanya ke yang sudah pernah menggunakan jasa mereka, berapa tips yang layak. Untuk tips porter saya minta rp. 20.000,- per peserta, kemudian nanti dari uang yang terkumpul dibagi rata ke jumlah porter. Untuk guide orang Baduy menyesuaikan, minimal Rp.100.000,-


Biasanya jumlah porter menyesuaikan jumlah barang2 yang kita bawa, karena biasanya kami bawa sembako untuk makan malam bareng bersama mereka. Pilihlah porter dengan kostum seperti foto di atas, mereka adalah orang Baduy Dalam yang sengaja turun untuk mencari penghasilan. Wajahnya cakep2 ya meski mereka sederhana dalam berpakaian. Yaaa inilah pakaian adat mereka warga Baduy Dalam, kain sarung hitam, kemeja dan ikat kepala putih. Sebelum naik ke kampung Baduy Dalam kami makan siang dan sholat terlebih dahulu di warung tempat kami makan, guide dan porter juga kami yang mentraktir makan siangnya. 

Kalau sudah di kampung Ciboleger, kita mulai jalan kaki, pelan2 saja, karena sampai di Baduy Dalam diperkirakan bisa memakan waktu 4-6 jam, jalanan juga naik dan turun karena bakal ada 3 bukit yang harus kita lalui. Untuk antisipasi dehidrasi, bawalah air mineral yang cukup, dan usahakan di bawa sendiri supaya begitu kita kehausan langsung saja meminumnya, tidak harus mencari-cari porternya.

Kayu sepenggalah ini sangat membantu kita untuk menaiki bukit. Untuk mendapatkannya bisa dibeli di pasar Ciboleger, dengan harga Rp. 3.000,- per batangnya.
Yaaaa,,,,ternyata Suku baduy Dalam menghuni bukit2 di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, Banten, berjarak sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung. Ketinggiannya kurang lebih 300 – 600 m di atas permukaan lautdengan topografi berbukit dan bergelombang dengan kemiringan tanah rata-rata mencapai 45%, jika malam dingin karena suhu rata-ratanya sekitar 20°C. Jadi bawalah kaos kaki dan baju hangat.

 Di Baduy Luar hampir setiap rumah punya alat tenun, ibu2 warga Baduy melakukan kegiatan menenun sehari-harinya sedangkan bapak2nya berkebun di pekarangan. Kain tenun ini beraneka ragam coraknya, kalau sudah menjadi kain bisa dijual dengan harga mulai Rp. 200,000,-an, kalau syal / ikat leher dengan harga Rp. 40.000,-

Bentuk padinya seperti ini, tangkai bulirnya panjang2 karena di tanam di pekarangan.   Selain padi mereka juga berkebun dengan menghasilkan kopi dan umbi-umbian.  Ketiga jenis inilah yang menjadi komoditas yang paling sering ditanam oleh masyarakat Baduy. Namun dalam praktek berladang dan bertani, Suku Baduy tidak menggunakan kerbau atau sapi dalam mengolah lahan mereka. Hewan berkaki empat selain anjing sangat dilarang masuk ke perkampungan demi menjaga kelestarian alam.


Bentuk rumahnya seperti ini, unik kan ? Terdapat 3 ruangan dalam rumah adat Baduy dengan fungsinya yang berbeda-beda. Bagian depan difungsikan sebagai ruang penerima tamu dan tempat menenun untuk kaum perempuan. Bagian tengah berfungsi untuk ruang keluarga dan tidur, dan ruangan ketiga yang terletak di bagian belakang digunakan untuk memasak dan tempat untuk menyimpan hasil ladang dan padi. Semua ruangan dilapisi dengan lantai yang terbuat dari anyaman bambu. Sedangkan pada bagian atap rumah, serat ijuk atau daun pohon kelapa.

Inilah bagian luar dari rumah Suku Baduy, mereka baik2, ketika kami lewat di depan rumah mereka langsung disediakan minuman dan makanan kecil berupa pisang masak. Kami tidak malu2 untuk meminum dan menyantapnya. Mungkin mereka tahu kalau kami pasti kehausan karena baru saja melewati jalan yang menanjak.

Yaaaa kalau masih di Baduy luar jalannya masih enak walau nanjak, karena sudah dibuat undak2an dari batu2 besar. Walau begitu, jika kita ketemu dengan tanjakan dengan kemiringan 45 derajat sungguh sangat mengurang tenaga dan nafas dibuat ngos2an.

Tapi perjalanan ini kami nikmati saja, kita baru sekali naik begini, gimana dengan mereka yang hampir tiap hari naik turun ? Saya lihat para porter tidak pernah menunjukkan wajah murung, mereka menikmati sekali pekerjaannya, walau tas yang kami bawa cukup besar, mereka tidak kelihatan keberatan, bahkan ada yang berlari menaiki tanjakan ini. Sedangkan kaki mereka tanpa alas,,,,luar biasa.

Tidak diperbolehkan menggunakan kendaraan, alas kaki, alat elektronik, teknologi, sekolah formal, hingga tidak diperbolehkan mandi memakai sabun dan bahan kimia lainnya merupakan larangan yang harus ditaati warga baduy Dalam.
Dan begitu sampai di jembatan bambu sebagai perbatasan wilayah Baduy Luar dan Dalampun, kami harus mengikuti aturan tersebut. Handphone langsung kami matikan, salah satu porter bilang "ini aturan di wilayah kami, jadi semua harus mematuhinya." Kami menurut saja apa kata mereka, karena kami harus menghormati budaya mereka.

Walau bagaimanapun, wilayah Suku Baduy ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah daerah Lebak sejak tahun 1990.Jadi Pemerintah pasti berniat untuk menjaga kelestarian Suku Asli di Jawa Barat ini, kita tidak boleh mempengaruhi mereka dengan hal2 yang berbau modern.
Kami dengan porter ngobrol banyak tentang budaya2 mereka, banyak hal2 yang kami ketahui dengan porter ini, nama porternya Herman, cukup keren juga ya ? Kata Kang Herman, kepercayaan masyarakat Baduy Dalam adalah Sunda Wiwitan, masuk ke dalam jenis Animisme/ pemujaan kepada arwah nenek moyang.

Sistem kekerabatan merujuk pada nama ibu, contoh seorang ibu bernama Sarimin maka nama anak laki-lakinya adalah bisa Saripin, Sarpin¸ atau anak perempuannya Sartin.  "Kalau namanya Herman jadi siapa nama Ibunya Kang ?" kang Herman hanya tersenyum saja....ini memang rada spesial Kang Herman ini, namanya sudah modern dan matanyapun juga cokelat, beda dengan yang lain2nya, mungkin inilah salah satu eksotisme Baduy ya ? 

Itu dia mereka, Kang Herman, Kang Sarta dan Kang Sanip,,,porter setia kami, mereka sangat bersahabat, hingga anak sayapun suka bercanda dengan mereka.

Ketika kami bertanya kepada mereka perihal uang, berapa paling banyak mereka pegang uang ? Mereka bilang pernah pegang Rp. 20.000.000,-. Uang itu diperoleh dari penjualan hasil2 pertanian mereka, juga kadang2 mereka menjual madu ke luar Baduy. Lalu saya tanya, dimana mereka menyimpan uang tersebut ? Katanya dititipkan ke bank atas nama saudaranya yang ada di Baduy Luar. Masih sangat2 lugu sekali ya mereka ?

Jadi uang mereka tidak dibelikan untuk barang2 mewah atau apapun sebagai tanda "gengsi" mereka.Untuk membedakan strata sosial ataupun tingkat kekayaan warga Baduy Dalam cukup dilihat dari jumlah Leuit atau lumbung padi yang dimilikinya, biasanya diletakkan cukup jauh dari wilayah perkampungan. Leuit menjadi tempat menyimpan hasil pertanian warga Baduy Dalam. Bentuknya seperti foto dibawah ini.

Sudah lama sekali kami berjalan namun belum nyampai juga, sudah beberapa kali kami singgah di bebatuan yang ada di pinggir jalan. Haripun sudah semakin gelap, hingga kami siap2 menyalakan lampu senter agar kami tidak terantuk batu ataupun akar2 pohon. Suara2 binatang hutan sudah mulai terdengar, suasana menyeramkan sudah kami rasakan, bagaimana tidak, kan di Baduy Dalam tidak ada penerangan sama sekali ?
Tinggal rombongan ini yang tersisa, kawan2 kami sudah jauh di depan. Sayup2 terdengar suara orang2 tertawa, jangan2 rumah Kang Sapri tempat kami menginap sudah dekat ? Yaaaaa,,,,,rupanya di depan kami adalah kampung Cibeo, salah satu perkampungan terdekat di Baduy Dalam. Alhamdulillah kami sudah sampai. Begitu kotornya badan kami, capai luar biasa, begitu tercium aroma masakan yang masih panas2 agaknya, lapar kami langsung menyerang. Buru2 kami masuk kerumah Kang Sapri, terlebih dahulu cuci kaki dengan menggunakan air yang ada di bambu2 di depan rumah.

Begitu selesai makan kami mandi2 di kali, jangan lupa ya, mandi tidak boleh pakai sabun, odol dan sampo, jadi kami hanya membasahi badan dengan air saja. Untuk mandi sudah disediakan pancuran, disamping kali, namun untuk buang air besar musti turun ke kali bagian ujung, tidak boleh bercampur dengan wilayah kali yang dipakai untuk mencuci alat2 rumah tangga dan bahan2 masakan.
Sehabis mandi kami istirahat sebentar, kami serombongan berada dalam satu ruangan tengah rumah Baduy, tiduran di lantai bambu beralaskan tikar pandan. Sebentar lagi ada sesepuh orang Baduy yang akan datang dan menjelaskan budaya seputar Suku Baduy Dalam. Namun saking capainya, acara tersebut tidak dilakukan secara formil, sambil baring2 kami menanyakan banyak hal yang belum kami ketahui. Secara ringkas hal2 tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Masyarakat Baduy Dalam mengenal dua sistem pemerintahan, yaitu sistem nasional, yang mengikuti aturan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan sistem adat yang mengikuti adat istiadat yang dipercaya masyarakat. Kedua sistem tersebut digabung sedemikian rupa sehingga tidak terjadi perbenturan. Secara nasional penduduk kampung dipimpin oleh kepala desa yang disebut sebagai Jaro Pamarentah, yang ada di bawah Camat, sedangkan secara adat tunduk pada pimpinan adat tertinggi, yaitu “Puun”. 
  2. Masyarakat Baduy dalam sistem perkawinannya Monogami. Laki-laki Baduy tidak boleh beristri lebih dari seorang dan perkawinan Poligami merupakan suatu hal yang tabu.  
  3. Seorang adik tidak boleh melangsungkan perkawinan sebelum kakaknya melangsungkan perkawinan (ngarunghal). 
  4. Tidak ada tradisi berhubungan sebelum menikah (pacaran), pasangan akan langsung dijodohkan. Orang tua laki-laki akan bersilaturahmi kepada orang tua perempuan dan memperkenalkan kedua anak mereka masing-masing.
  5. Perceraian hanya diperbolehkan untuk menikah kembali jika salah satu dari mereka telah meninggal. 
  6. Pembagian waris untuk anak laki-laki dan perempuan terbagi rata. Harta yang ditinggalkan berupa rumah, perhiasan, uang dan alat-alat rumah tangga lainnya. 

Ketika iseng2 saya tanyakan soal cinta kepada pasangannya kepada Kang Sapri, sambil tersenyum dia bilang "tidak ada istilah cinta apa tidak bu, pokoknya kami harus patuh kepada Puun, apapun yang diputuskan harus dijalankan, kami tidak mengenal sebelumnya dengan isteri kami. Tapi kami harus setia". Ya ampuunnnn,,,lugu sekali mereka, tapi mereka juga punya anak, naluri kali ya ?

Begitulah sekelumit budaya Suku Baduy Dalam, pertemuan yang singkat namun sangat berkesan,,,,

Nah untuk pulangnya, kita bisa ambil jalur yang pendek saja, yaitu jalur Cijahe, dari Cibeo menuju Cijahe bisa ditempuh 2 jam saja, tapi sepanjang perjalanan tidak akan ditemui rumah2 penduduk, full hanya ketemu dengan lahan perkebunan / ladang warga.


Okey kawan....mungkin hanya itu sekelumit budaya Suku Baduy Dalam yang bisa saya sampaikan, lain waktu bisa disambung lagi dengan cerita yang berbeda. Sebelum berpisah dengan saudara2 kami Warga Baduy Dalam, kami sempatkan utk foto bersama di Pos 2 Cijahe.


Love you para porter yang baik hati,,,,

Jangan ragu2 ya kawan,,,datanglah ke Kampung Baduy Dalam, dijamin bakal ketagihan deh,,,!
Indonesia itu indah,,,,,,!!